<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Buletin At Tauhid</title>
	<atom:link href="http://buletintauhid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buletintauhid.wordpress.com</link>
	<description>Buletin Penyeru Dakwah Tauhid Rasululloh Muhammad</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Feb 2007 04:34:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='buletintauhid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Buletin At Tauhid</title>
		<link>http://buletintauhid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://buletintauhid.wordpress.com/osd.xml" title="Buletin At Tauhid" />
	<atom:link rel='hub' href='http://buletintauhid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Takdir Alloh Tidak Kejam</title>
		<link>http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/takdir-alloh-tidak-kejam/</link>
		<comments>http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/takdir-alloh-tidak-kejam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2007 04:34:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>buletinislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/takdir-alloh-tidak-kejam/</guid>
		<description><![CDATA[Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Barangsiapa tidak mengimaninya sungguh dia telah terjerumus dalam kekafiran meskipun dia mengimani rukun-rukun iman yang lainnya. Walhamdulillah banyak diantara kaum muslimin yang telah mengenal takdir, akan tetapi amat disayangkan ternyata masih terdapat berbagai fenomena yang justru menodai bahkan bertentangan dengan keimanan kepada takdir. Barangkali masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletintauhid.wordpress.com&amp;blog=769989&amp;post=4&amp;subd=buletintauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Barangsiapa tidak mengimaninya sungguh dia telah terjerumus dalam kekafiran meskipun dia mengimani rukun-rukun iman yang lainnya. <em>Walhamdulillah</em> banyak diantara kaum muslimin yang telah mengenal takdir, akan tetapi amat disayangkan ternyata masih terdapat berbagai fenomena yang justru menodai bahkan bertentangan dengan keimanan kepada takdir.<br />
Barangkali masih tersimpan dalam ingatan kita tatkala seorang artis mempopulerkan lagu ‘Takdir memang kejam’ yang sangat digemari oleh sebagian masyarakat negeri ini beberapa waktu lampau, yang menunjukkan betapa mudahnya masyarakat kita menerima sesuatu yang menurut mereka bagus namun pada hakikatnya justeru merusak akidah mereka. Karena itulah setiap muslim wajib membekali dirinya dengan pemahaman takdir yang benar sebagaimana yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dalam mengimani takdir ada empat hal yang harus diyakini dalam dada setiap muslim yaitu <em>al ‘ilmu</em>, <em>al kitabah</em>, <em>al masyi’ah</em> dan <em>al kholq</em>.<strong>Pertama, Al ‘Ilmu (Tentang Ilmu Alloh)</strong><span id="more-4"></span></p>
<p>Kita meyakini bahwa ilmu Alloh Ta’ala meliputi segala sesuatu secara global dan terperinci yang terjadi sejak zaman azali (yang tidak berpermulaan) sampai abadi (yang tidak berkesudahan). Alloh Ta’ala berfirman, <em>“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Alloh.”</em> (Al Hajj: 70). Alloh sudah tahu siapa saja yang akan menghuni Surga dan siapa yang akan menghuni Neraka. Tidak ada satupun makhluk di langit maupun di bumi bahkan di dalam perut bumi sekalipun yang luput dari pengetahuan-Nya.</p>
<p><strong>Kedua, Al Kitabah (Tentang Penulisan Ilmu Alloh)</strong></p>
<p>Kita meyakini bahwa Alloh Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam <em>Lauhul Mahfuzh</em> sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Alloh telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”</em> (HR. Muslim). Takdir yang ditulis di <em>Lauhul Mahfuzh</em> ini tidak pernah berubah. Berdasarkan ilmu-Nya, Alloh telah menuliskan siapa saja yang termasuk penghuni surga dan siapa yang termasuk penghuni neraka. Namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui apa yang ditulis di <em>Lauhul Mahfuzh</em> kecuali setelah hal itu terjadi.</p>
<p><strong>Ketiga, Al Masyi’ah (Tentang Kehendak Alloh)</strong></p>
<p>Kita meyakini bahwa Alloh Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang keluar dari kehendak-Nya. Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (<em>masyi’ah</em>) Alloh, entah itu disukai atau tidak disukai oleh syari’at. Inilah yang disebut dengan <em>Irodah Kauniyah Qodariyah</em> atau <em>Al Masyi’ah</em>. Seperti adanya ketaatan dan kemaksiatan itu semua terjadi di bawah kehendak Alloh yang satu ini. Meskipun kemaksiatan itu tidak diinginkan terjadi oleh aturan syari’at.</p>
<p>Di sisi lain Alloh memiliki <em>Irodah Syar’iyah Diniyah</em>. Di dalam jenis kehendak/<em>irodah</em> yang kedua ini terkandung kecintaan Alloh. Maka orang yang berbuat taat telah menuruti 2 macam kehendak Alloh ini. Adapun orang yang bermaksiat dia telah menyimpang dari <em>Irodah Syar’iyah</em> namun tidak terlepas dari <em>Irodah Kauniyah</em>. Lalu apakah orang yang bermaksiat ini terpuji? Jawabnya, Tidak. Karena dia telah melakukan perkara yang tidak dicintai d bahkan dibenci oleh Alloh.</p>
<p><strong>Keempat, Al Kholq (Tentang Penciptaan Segala Sesuatu Oleh Alloh)</strong></p>
<p>Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah makhluk ciptaan Alloh baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga seluruh gerak-gerik yang terjadi di dalamnya. Alloh Ta’ala befirman, <em>“Alloh adalah pencipta segala sesuatu.”</em> (Az Zumar: 62). Perbuatan hamba juga termasuk makhluk ciptaan Alloh, karena perbuatan tersebut terjadi dengan kehendak dan kemampuan hamba; yang kedua-duanya ada karena diciptakan oleh Alloh. Alloh Ta’ala berfirman, <em>“Alloh-lah yang Menciptakan kalian dan amal perbuatan kalian.”</em> (Ash Shoffaat: 96)</p>
<p><strong>Sumber Kesesatan Dalam Memahami Takdir</strong></p>
<p>Sesungguhnya kesesatan dalam memahami takdir bersumber dari kesalahpahaman dalam memahami kehendak/<em>irodah</em> Alloh. Mereka yang menganggap terjadinya kemaksiatan terjadi di luar kehendak Alloh telah menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah yang menunjukkan tentang Irodah Kauniyah. Orang-orang semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe <em>Qodariyah</em> yang menolak takdir. Sedangkan mereka yang menganggap segala sesuatu yang ada baik ketaatan maupun kemaksiatan terjadi karena dicintai Alloh telah menyingkirkan dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah yang mengancam hamba yang menyimpang dari <em>Irodah Syar’iyah</em>. Orang-orang semacam ini akhirnya terjatuh dalam kesesatan tipe <em>Jabriyah</em> yang menganggap hamba dalam keadaan dipaksa oleh Alloh. Maha Suci lagi Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka katakan. Maka Ahlus Sunnah berada di tengah-tengah, mereka mengimani <em>Irodah Syar’iyah</em> dan <em>Irodah Kauniyah</em>, dan inilah pemahaman Nabi dan para sahabat.</p>
<p><strong>Takdir Adalah Rahasia Alloh</strong></p>
<p>Ali bin Abi Tholib <em>rodhiyallohu ‘anhu</em> menceritakan bahwa Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, <em>“Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka”</em>. Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, <em>“Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”</em>. Maka beliau pun menjawab, <em>“Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”</em>, kemudian beliau membaca firman Alloh, <em>“Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.”</em> (Al Lail: 5-7). (HR. Bukhori dan Muslim). Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat.</p>
<p><strong>Pilih Mana: Jalan Ke Surga Atau ke Neraka?</strong></p>
<p>Apabila di hadapan anda terdapat 2 buah jalan; yang satu menuju daerah yang penuh kekisruhan dan ketidakamanan, sedangkan jalan yang satunya menuju daerah yang penuh ketentraman dan keamanan. Akan kemanakah anda akan melangkahkan kaki? Akal sehat tentu memilih jalan yang pertama. Maka demikian pulalah seharusnya kita bersikap dalam memilih jalan yang menuju kehidupan akhirat kita, hendaknya jalan ke surga itulah yang kita pilih bukan sebaliknya. Alangkah tidak adilnya manusia yang memilih kesenangan duniawi dengan akalnya namun justeru memilih kesengsaraan akhirat dengan dalih takdir dan membuang akal sehatnya. Suatu saat ada pencuri yang hendak dipotong tangan oleh kholifah Umar, namun pencuri ini mengatakan, <em>“Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya aku mencuri hanya karena takdir Alloh”</em>. Umar pun menjawab, <em>“Dan Kami pun memotong tangan dengan  takdir Alloh”</em>. Lalu siapakah yang kejam? Bukan takdir Alloh yang kejam tapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. <em>Wallohu a’lam bish showaab.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletintauhid.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletintauhid.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletintauhid.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletintauhid.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletintauhid.wordpress.com&amp;blog=769989&amp;post=4&amp;subd=buletintauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/takdir-alloh-tidak-kejam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93a75ce7724a327135d6c6a82e211b78?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">BuletinIslam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mewaspadai Syirik Dalam Nama</title>
		<link>http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/mewaspadai-syirik-dalam-nama/</link>
		<comments>http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/mewaspadai-syirik-dalam-nama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2007 04:34:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>buletinislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/mewaspadai-syirik-dalam-nama/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setiap muslim memahami bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Namun sayangnya, masih sedikit yang faham tentang hakikat dan perinciannya. Perlu pembaca ketahui, syirik tidaklah terbatas pada menyembah patung, pohon, batu atau kuburan belaka. Tetapi lebih luas lagi, syirik mencakup segala aktivitas yang seharusnya khusus ditujukan hanya kepada Alloh saja namun dipalingkan kepada selain-Nya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletintauhid.wordpress.com&amp;blog=769989&amp;post=3&amp;subd=buletintauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir setiap muslim memahami bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Namun sayangnya, masih sedikit yang faham tentang hakikat dan perinciannya. Perlu pembaca ketahui, syirik tidaklah terbatas pada menyembah patung, pohon, batu atau kuburan belaka. Tetapi lebih luas lagi, syirik mencakup segala aktivitas yang seharusnya khusus ditujukan hanya kepada Alloh saja namun dipalingkan kepada selain-Nya. Kita memohon kepada Alloh semoga lembaran-lembaran ini bermanfaat untuk menambah ilmu kita agar kita tidak terjatuh ke dalam lubang gelap kesyirikan.<strong>Semua Makhluk Adalah Hamba Alloh</strong><span id="more-3"></span></p>
<p>Pembaca yang budiman, tidak ada seorang pun di antara makhluk Alloh melainkan dia adalah hamba Alloh. Ada dua jenis penghambaan. Hamba Alloh secara <em>kauni</em> yaitu hamba yang hanya tunduk kepada hukum-hukum <em>kauni</em> (takdir) dan hamba Alloh secara <em>syar’i</em> yaitu hamba yang tunduk kepada hukum-hukum <em>syar’i</em> (Islam) di samping tunduk secara <em>kauni</em>. Alloh berfirman yang artinya, <em>“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”</em> (QS. Maryam: 93). Hamba dalam ayat tersebut maksudnya adalah hamba secara <em>kauni</em>. Adapun firman Alloh yang artinya, <em>“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”</em> (QS. Al Furqon: 63), maka yang dimaksud dengan hamba dalam ayat ini adalah hamba secara <em>syar’i</em>.</p>
<p><strong>Penghambaan Kepada Selain Alloh Adalah Syirik</strong></p>
<p>Karena penghambaan merupakan hak yang khusus diperuntukkan hanya bagi Alloh, maka setiap penghambaan kepada selain Alloh merupakan kesyirikan. Alloh berfirman yang artinya, <em>“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) memohon kepada Alloh, Tuhannya, seraya berkata, ’Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sholih, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’. Tatkala Alloh memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka persekutukan.”</em> (QS. Al A’rof: 189-190). Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’diy <em>rohimahulloh</em> berkata, “Sesungguhnya orang yang dianugerahi keturunan yang sehat jasmaninya bahkan agamanya oleh Alloh, wajib mensyukuri nikmat Alloh tersebut. Mereka tidak menamakan anak-anaknya dengan nama yang diperhambakan kepada selain Alloh. Mereka juga tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Alloh. Karena hal tersebut merupakan bentuk-bentuk kufur nikmat dan dapat membatalkan tauhid.” (<em>Al Qoul As Sadid</em>).</p>
<p><strong>Penamaan Dengan Kata <em>‘Abdu</em> dan <em>Amatu</em></strong></p>
<p>Tidak boleh (haram hukumnya) bagi seseorang menamakan diri atau anak-anaknya dengan nama yang mengandung unsur penghambaan kepada selain Alloh. Misalnya, <em>‘Abdul Ka’bah</em> (hamba Ka’bah), <em>‘Abdu Syams</em> (hamba matahari), <em>‘Abdur Rosul</em> (hamba Rosul), <em>‘Abdu Manaf</em> (hamba Manaf), <em>‘Abdul Muttholib</em> (hamba Muttholib), <em>‘Abdu Manat</em> (hamba Manat), <em>‘Abdul ‘Uzza</em> (hamba ‘Uzza), <em>‘Abdul Husain</em> (hamba Husain), <em>‘Abdus Sayyid</em> (hamba Sayyid Al Badawi), dan lain-lain. Adapun penamaan <em>‘Abdul Mutthalib</em>, para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya. Yang mengatakan boleh, mereka berdalil dengan hadits Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> ketika perang Hunain, <em>“Aku adalah cucu ‘Abdul Mutthalib.”</em> (HR. Al Bukhari). Ini menunjukkan bolehnya penamaan seperti itu. Namun yang lebih rojih (benar/kuat) adalah penamaan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan hadits Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> tersebut tidak menunjukkan sama sekali bolehnya hal itu karena konteks hadits adalah pernyataan semata, bukan perintah.</p>
<p>Imam Ibnu ‘Utsaimin <em>rohimahulloh</em> berkata, “Para ulama sepakat bahwa menceritakan kekufuran tidaklah menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Maksudnya ketika Rosululloh menyatakan dirinya <em>“Aku adalah cucu ‘Abdul Muttholib”</em> bukan berarti Rosululloh menganjurkan agar memberi nama dengan nama tersebut. Dan juga tidak ada sahabat yang menamakan diri mereka atau anak-anak mereka dengan nama <em>‘Abdul Muttholib</em>.” (<em>Al Qoul Al Mufid</em>). Hal ini disebabkan mereka memahami tauhid dengan sempurna, yaitu bahwasannya menyambung nama <em>‘Abdu</em> dengan nama selain nama-nama Alloh merupakan salah satu bentuk kesyirikan. Seharusnya seseorang menamakan dirinya atau anak-anaknya (jika yang diinginkan berupa makna penghambaan) dengan <em>‘Abdulloh</em>, <em>‘Abdurrohman</em>, <em>‘Abdul ‘Aziz</em>, <em>‘Abdus Shomad</em>, <em>‘Abdul Qodir</em>, <em>‘Abdurrouf</em>, <em>‘Abdul Malik</em>, dan sebagainya. Atau jika dia wanita, maka <em>Amatulloh</em>, <em>Amaturrohman</em>, <em>Amatul ‘Aziz</em>, <em>Amatul Ghofur</em>, dan seterusnya, bisa menjadi alternatif.</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Kesyirikan Dalam Hal Anak</strong></p>
<p>Benarlah firman Alloh yang artinya, <em>“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar.”</em> (QS. At Taghobun: 15). Betapa banyak orang sekarang yang terfitnah (diuji) dengan harta dan anak? Gara-gara anak ternyata orang tua bisa terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Di antara contohnya:</p>
<ol>
<li>Jika orang tua berkeyakinan bahwa yang menjadikan anaknya lahir ke dunia adalah Wali Fulan atau Kyai Fulan, maka ini termasuk <em>syirik akbar</em> (besar) karena telah menyandarkan penciptaan kepada selain Alloh. Contohnya: Seorang wanita yang sudah lama berumah tangga namun sang bayi dambaan tidak kunjung lahir. Lalu ia mendatangi kuburan wali tertentu yang dianggap (baca: belum tentu) wali Alloh, sambil meminta, <em>“Wahai Wali Fulan, beri saya anak!”</em> <em>Inna lillah wa inna ilaihi roji’un.</em></li>
<li>Jika orang tua menyandarkan keselamatan lahir anaknya kepada dokter, bidan atau dukun bayi, maka ini termasuk <em>syirik asghor</em> (kecil) karena telah menyandarkan nikmat kepada selain Alloh. Mereka hanya mengingat sebab (dokter/bidan), namun melupakan yang menciptakan sebab (Alloh ‘Azza wa Jalla).</li>
<li>Jika orang tua lebih mencintai anaknya daripada mencintai Alloh dan Rosul-Nya, maka ini termasuk syirik dalam cinta. Sebagaimana Alloh mensifati orang-orang musyrik yang mencintai sesembahan-sesembahan mereka dengan firman-Nya yang artinya, <em>“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.”</em> (QS. Al Baqoroh: 165)</li>
</ol>
<p>Pembaca yang budiman, itulah syirik yang terkadang luput dari perhatian kita. Ternyata, di samping sebagai dosa terbesar, syirik bisa menyerang seluruh sendi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat mengherankan jika ada orang yang mengatakan, <em>“Belajar tauhid tidak perlu banyak-banyak!!</em>” atau <em>“Kita tidak perlu membahas syirik pada zaman sekarang ini!!”</em> Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? <em>Wallohu a’lam.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/buletintauhid.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/buletintauhid.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/buletintauhid.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/buletintauhid.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=buletintauhid.wordpress.com&amp;blog=769989&amp;post=3&amp;subd=buletintauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletintauhid.wordpress.com/2007/02/12/mewaspadai-syirik-dalam-nama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/93a75ce7724a327135d6c6a82e211b78?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">BuletinIslam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
